Bocah Kecil dan Korek Api
To : Ernanda
Yang pergi membawa permainannya
Citayam 14 febuari 07
Bocah kecil itu berjalan
Dikegelapan ruas-ruas gang sempit
Sepanjang rumah kontrakannya
Sambil membawa korek api
Di genggaman jemari yang kecil
Bocah kecil itu menelusuri
Keriangan diantara bayangan hitam diri
Setiap tujuh kali melangkah bocah itu terhenti
Dan dinyalakannya batang korek api itu
Lalu dibiarkan hingga angin memadamkannya
Ia senang menyaksikan angin
Meniup batang korek api yang lagi menyala
Ungkapnya tersenyum yang berkata pada hatinya
Hari ini angin sedang berulang tahun
Dan korek api ini untuk ditiupnya
Agar angin dapat meminta permohonannya
Katanya sembari bergoyang menapaki kaki
Tujuh langkahnya kembali
Angin terharu : melihat ketulusan hati polos bocah itu
Sesampai diperujung gang, angin membiusnya.
Bocah kecil itu tiba-tiba tergeletak jatuh tak bernyawa
Dan korek api itu masih berada dalam genggaman
Ditangan yang terlihat rapuh merengkup dunia
Lalu angin membawanya ditempat hamparan ladang luas hijau
Diantara dua bukit yang permai
Dan angin pun berkata : bocah kecil itu layak mendapatkan angin terbaik disini
Tujuh Belasan
MERDEKA memang tidak mudah. Enam puluh empat tahun merdeka menunjukkan itu. Saya kenal Pak Jamil. Anda mungkin kenal Wardi atau Johanes. Kita kenal mereka yang tewas dalam pelbagai perang saudara dan pemberontakan. Atau kita pernah ketemu dengan mereka, yang kemudian lenyap setelah sebuah kerusuhan.
Berapa banyak sudah orang yang mati? Berapa banyak anak-anak yang terbuncang oleh guncangan politik dalam riwayat Republik, tersia-sia oleh kekalutan ekonomi, atau celaka oleh kesewenang-wenangan?
Merdeka itu ibarat hidup berkeluarga sendiri: suatu fluktuasi nasib yang tak bisa disodorkan lagi ke punggung orang lain. Sebelum swasembada beras hari ini, kita pernah disengat hongerudim. Sebelum zaman aman, kita pernah menempuh zaman DI. Hutan dan pedalaman tak hanya memperdengarkan suara seruling, tapi juga jadi unggur api pembakaran yang ganas – seperti dengan indahnya dituliskan oleh Ramadhan K.H. dalam sebuah puisi panjang tentang Priangan.
Dan kita pun hidup dengan trauma. Kita hidup dengan kecemasan. Ketika proklamasi dibacakan di pagi hari yang cerah 17 Agustus 1945, kita memang tak membayangkan penuh-penuh bahwa merdeka juga bisa mengandung saat-saat sedih benci, gundah, ngeri.
Ada benarnya bahwa seharusnya memang kita lebih siap untuk merdeka, dan tak asal jadi. Belanda-Belanda dulu juga sudah bilang bahwa untuk merdeka kaum inlander harus sedikit lebih matang. “Jika seorang anak bertambah dewasa, mau tak mau suatu saat akan tiba … ketika ia akan minta kunci pintu depan.”
Kata-kata itu diucapkan di tahun 1918, oleh seorang tokoh kolonial H. Colijn. Si “anak”, bagi Tuan Colijn, adalah Hindia Belanda, atau tepatnya Hindia bin Belanda atau lebih tepat lagi Hindia yang diadopsi oleh Belanda. Sebab, bagi Colijn, si “bapa” adalah sebuah bangsa, sebuah peradaban dan kekuasaan, yang berpusat di Den Haag yang kecil itu. Dan di tahun 1918, si anak boleh saja memohon, “Bapa karni yang ada di Den Haag, berikanlah kami kemerdekaan kami sehari-hari,” tapi si bapak harus bilang “tidak”. Si anak belum dewasa.
Tapi apakah sebenarnya arti “dewasa” bagi sebuah bangsa? Dan atas hak nenek moyang siapa Tuan Colijn, pemimpin Anti Revolutionaire Partij itu, mengangkat diri dan bangsanya sebagai sang bapak?
Pertanyaan itu penting, sampai hari ini. Sebab, Colijn adalah contoh tentang bagaimana suatu kekuasaan mencoba membangun citranya sendiri di cermin, sementara tidak sadar bahwa cermin adalah sesuatu yang tak pernah diludahi. Yang pernah diludahi adalah petani rempah-rempah yang ladangnya dibakar dan perahunya ditenggelamkan dan pemimpin mereka, misalnya Pattimura, digantung. Yang pernah dihinakan adalah mereka yang harus (secara harfiah, benar-benar) mencium kaki atau lutut pejabat gubernemen, tak boleh masuk kamar bola karena kulitnya cokelat atau tak boleh masuk sekolah tertentu karena ia tidak ningrat.
Bahkan yang ningrat pun bisa terhina. Ada sebuah cerita, yang dikisahkan oleh Kartini dalam sepucuk suratnya. Seorang pemuda Jawa yang berbakat dan selalu lulus nomor satu di tiga sekolah lanjutan harus tahu diri setelah satu kejadian yang menyakitkan hati. Ia dihukum, dimutasikan ke jabatan yang rendah, hanya karena dia berani berbahasa Belanda kepada seorang residen Belanda. Dan di jabatannya yang baru, sebagai klerk untuk tuan kontrolir, ia harus menanggungkan penghinaan lain: atasannya adalah bekas teman sekelasnya yang dulu bodoh. Dia tentu saja orang putih. Si Jawa harus berbicara bahasa Jawa kromo kepadanya, sementara si putih, bekas siswa yang bebal itu, menyahutnya dalam Bahasa Melayu ….
“Saya mencintai orang Belanda, amat amat sangat,” tulis Kartini. Tapi, tulisnya selanjutnya, “Dalam pelbagai cara yang tak terang-terangan mereka membuat kami merasakan ketidaksukaan mereka …. Mereka seakan-akan mengatakan, akulah tuan, kamulah yang hamba ….”
Kartini meninggal di tahun 1904, tapi di tahun 1918 toh Colijn masih ingin bahwa sang tuan di mata orang Indonesia harap dipandang sebagai “bapak”. Dia lupa bahwa orang-orang inlander yang terhina bukanlah orang yang bisa diharapkan merasa diri sebagai “anak”. Dan di situ, perkara “dewasa” atau “belum dewasa” tidak lagi relevan. Yang relevan adalah kemerdekaan itu sendiri.
Colijn benar bahwa kemerdekaan suatu bangsa mengandung banyak mara bahaya, juga bagi bangsa itu sendiri. Merdeka memang tidak mudah. Tapi sebuah bangsa jadi matang bukan karena taat menunggu, sampai kunci depan dan hak-hak diserahkan oleh “sang bapak” kepadanya. Sebuah bangsa jadi matang karena ia bersedia ambil risiko dengan kesalahan. Ia bukan seorang bocah yang selalu dilindungi dari masuk angin atau kepleset. Ia bukan calon menantu yang cukup dibekali harta sebelum kawin. Ia adalah pribadi yang mandiri, liat oleh benturan, kuat oleh badai.
Kemerdekaan memang sebuah risiko. Siapa yang takut itu, biarlah jadi batu.
Menahan Diri Ketika Berkuasa
26 November 1783. Jenderal George Washington tiba di Philadelphia. Seluruh penduduk mengelu-elukannya. Pahlawan revolusi yang menang. Panglima yang dicintai prajurit. Pemimpin yang membebaskan rakyat Amerika dari ancaman penjajahan Inggris untuk seterusnya. Maka harian Pennsylvania Journal pun menulis, dengan huruf-huruf kapital: “WASHINGTON, THE SAVIOUR OF HIS COUNTRY!”
George Washington, sang penyelamat negeri, kemudian jadi presiden Amerika Serikat yang pertama. Berbeda dengan banyak orang yang duduk di Gedung Putih sesudahnya, Washington tak terkenal gemilang. Dia kadang digambarkan sebagai tokoh yang agak bersahaja, dalam arti jangkauan intelektualnya terbatas. Dia dianggap lebih seorang “pekerja” ketimbang seorang “pemikir”. Maka apa gerangan tanda kebesarannya sebagai bapak bangsa?
Seorang penulis sejarah Amerika terkemuka, Page Smith, menjawab pertanyaan itu dengan sebuah paradoks. Kebesaran Washington, tulis Smith dalam jilid kedua buku A New Age Now Begins, “terletak terutama bukan pada apa yang dilakukannya, melainkan pada apa yang tidak dilakukannya”. Dengan kata lain, “pengekangan diri Washingtonlah, dan bukan tindakan Washington, yang menentukan kebesarannya.”
Dia, sebagai pahlawan, tak membiarkan diri menuruti puji-pujian. Dia, sebagai pemimpin eksekutif yang begitu besar kekuasaannya (karena begitulah ditentukan oleh Konstitusi Amerika), selalu sabar menghadapi para wakil rakyat di Kongres. Ketika sejumlah pasukan bekas anak-buahnya mengancam berontak, Washington — dengan tatapan yang dibantu kacamata tua — menemui mereka. Ia menegaskan kembali, bahwa pejuang revolusi sekalipun perlu tetap tunduk kepada tertib sipil.
Barangkali karena itulah, Amerika Serikat berhasil meletakkan fondasi demokrasinya hingga begitu kokoh selama lebih 200 tahun. Dan orang pun teringat satu tokoh lain: Nehru, dari India di abad ke-20.
Di bulan November 1937, di sebuah penerbitan di Calcutta dimuat satu profil yang tajam tentang pemimpin kemerdekaan India itu. Nehru, begitulah tulisan itu menyebutkan, mengandung dalam dirinya beberapa anasir yang bisa menjadikannya seorang diktator. Ia populer, berkemauan keras, penuh energi. Tapi ia bersikap tak toleran kepada orang lain, dan cenderung menghina mereka yang lemah dan tak efisien. Maka tulisan itu bertanya: Tak mungkinkah Jawaharlal membayangkan diri sebagai seorang Caesar? Jawabnya: “Di situlah letak bahaya bagi Jawaharlal dan bagi India.”
Itu adalah peringatan yang dini bagi seorang yang di ambang kekuasaan besar. Yang menarik, tulisan dikirimkan oleh Nehru sendiri. Meskipun ia tak pernah mengakui secara resmi bahwa dialah penulis profil yang tajam tentang dirinya itu.Apakah sebabnya seorang dapat menahan diri? Nilai-nilai apakah yang ada dalam dirinya hingga ia tak tergoda menjadi seorang Caesar?
Page Smith, berbicara tentang Washington, menyebut adanya “ethos Protestan” dalam diri tokoh itu. Tak begitu jelas segi mana dari ethos itu yang menyebabkan seseorang sadar benar akan bahayanya sebuah posisi tinggi. Mungkin itu ada hubungannya dengan semangat yang secara lebih tajam tercermin pada kaum Puritan: semangat untuk waspada terhadap godaan yang menghimbau “daging”.
Mungkin itu ada pula pertaliannya dengan hati seorang Calvin, yang percaya bahwa manusia “dijalari oleh racun dosa”. Filosof John Locke, seraya memperingatkan bahayanya kekuasaan, mengemukakan ketidak-percayaannya bahwa kekuasaan itu akan “memperbaiki rendahnya sifat manusia”.
Tapi mungkin tak selamanya hanya pandangan yang begitu (yang curiga pada pamrih orang) yang menyelamatkan Washington atau Nehru dari godaan. Sebab jika manusia hanya jelek dan berdosa, dia tak akan mampu mengatasi tendensi keji dirinya sendiri. Seorang yang eling yang selalu “ingat”, ialah seorang yang tahu bersyukur melihat dirinya. Tapi ia juga seorang yang tahu: kerendahan hati itu bisa pergi begitu saja.

