Tujuh Belasan
MERDEKA memang tidak mudah. Enam puluh empat tahun merdeka menunjukkan itu. Saya kenal Pak Jamil. Anda mungkin kenal Wardi atau Johanes. Kita kenal mereka yang tewas dalam pelbagai perang saudara dan pemberontakan. Atau kita pernah ketemu dengan mereka, yang kemudian lenyap setelah sebuah kerusuhan.
Berapa banyak sudah orang yang mati? Berapa banyak anak-anak yang terbuncang oleh guncangan politik dalam riwayat Republik, tersia-sia oleh kekalutan ekonomi, atau celaka oleh kesewenang-wenangan?
Merdeka itu ibarat hidup berkeluarga sendiri: suatu fluktuasi nasib yang tak bisa disodorkan lagi ke punggung orang lain. Sebelum swasembada beras hari ini, kita pernah disengat hongerudim. Sebelum zaman aman, kita pernah menempuh zaman DI. Hutan dan pedalaman tak hanya memperdengarkan suara seruling, tapi juga jadi unggur api pembakaran yang ganas – seperti dengan indahnya dituliskan oleh Ramadhan K.H. dalam sebuah puisi panjang tentang Priangan.
Dan kita pun hidup dengan trauma. Kita hidup dengan kecemasan. Ketika proklamasi dibacakan di pagi hari yang cerah 17 Agustus 1945, kita memang tak membayangkan penuh-penuh bahwa merdeka juga bisa mengandung saat-saat sedih benci, gundah, ngeri.
Ada benarnya bahwa seharusnya memang kita lebih siap untuk merdeka, dan tak asal jadi. Belanda-Belanda dulu juga sudah bilang bahwa untuk merdeka kaum inlander harus sedikit lebih matang. “Jika seorang anak bertambah dewasa, mau tak mau suatu saat akan tiba … ketika ia akan minta kunci pintu depan.”
Kata-kata itu diucapkan di tahun 1918, oleh seorang tokoh kolonial H. Colijn. Si “anak”, bagi Tuan Colijn, adalah Hindia Belanda, atau tepatnya Hindia bin Belanda atau lebih tepat lagi Hindia yang diadopsi oleh Belanda. Sebab, bagi Colijn, si “bapa” adalah sebuah bangsa, sebuah peradaban dan kekuasaan, yang berpusat di Den Haag yang kecil itu. Dan di tahun 1918, si anak boleh saja memohon, “Bapa karni yang ada di Den Haag, berikanlah kami kemerdekaan kami sehari-hari,” tapi si bapak harus bilang “tidak”. Si anak belum dewasa.
Tapi apakah sebenarnya arti “dewasa” bagi sebuah bangsa? Dan atas hak nenek moyang siapa Tuan Colijn, pemimpin Anti Revolutionaire Partij itu, mengangkat diri dan bangsanya sebagai sang bapak?
Pertanyaan itu penting, sampai hari ini. Sebab, Colijn adalah contoh tentang bagaimana suatu kekuasaan mencoba membangun citranya sendiri di cermin, sementara tidak sadar bahwa cermin adalah sesuatu yang tak pernah diludahi. Yang pernah diludahi adalah petani rempah-rempah yang ladangnya dibakar dan perahunya ditenggelamkan dan pemimpin mereka, misalnya Pattimura, digantung. Yang pernah dihinakan adalah mereka yang harus (secara harfiah, benar-benar) mencium kaki atau lutut pejabat gubernemen, tak boleh masuk kamar bola karena kulitnya cokelat atau tak boleh masuk sekolah tertentu karena ia tidak ningrat.
Bahkan yang ningrat pun bisa terhina. Ada sebuah cerita, yang dikisahkan oleh Kartini dalam sepucuk suratnya. Seorang pemuda Jawa yang berbakat dan selalu lulus nomor satu di tiga sekolah lanjutan harus tahu diri setelah satu kejadian yang menyakitkan hati. Ia dihukum, dimutasikan ke jabatan yang rendah, hanya karena dia berani berbahasa Belanda kepada seorang residen Belanda. Dan di jabatannya yang baru, sebagai klerk untuk tuan kontrolir, ia harus menanggungkan penghinaan lain: atasannya adalah bekas teman sekelasnya yang dulu bodoh. Dia tentu saja orang putih. Si Jawa harus berbicara bahasa Jawa kromo kepadanya, sementara si putih, bekas siswa yang bebal itu, menyahutnya dalam Bahasa Melayu ….
“Saya mencintai orang Belanda, amat amat sangat,” tulis Kartini. Tapi, tulisnya selanjutnya, “Dalam pelbagai cara yang tak terang-terangan mereka membuat kami merasakan ketidaksukaan mereka …. Mereka seakan-akan mengatakan, akulah tuan, kamulah yang hamba ….”
Kartini meninggal di tahun 1904, tapi di tahun 1918 toh Colijn masih ingin bahwa sang tuan di mata orang Indonesia harap dipandang sebagai “bapak”. Dia lupa bahwa orang-orang inlander yang terhina bukanlah orang yang bisa diharapkan merasa diri sebagai “anak”. Dan di situ, perkara “dewasa” atau “belum dewasa” tidak lagi relevan. Yang relevan adalah kemerdekaan itu sendiri.
Colijn benar bahwa kemerdekaan suatu bangsa mengandung banyak mara bahaya, juga bagi bangsa itu sendiri. Merdeka memang tidak mudah. Tapi sebuah bangsa jadi matang bukan karena taat menunggu, sampai kunci depan dan hak-hak diserahkan oleh “sang bapak” kepadanya. Sebuah bangsa jadi matang karena ia bersedia ambil risiko dengan kesalahan. Ia bukan seorang bocah yang selalu dilindungi dari masuk angin atau kepleset. Ia bukan calon menantu yang cukup dibekali harta sebelum kawin. Ia adalah pribadi yang mandiri, liat oleh benturan, kuat oleh badai.
Kemerdekaan memang sebuah risiko. Siapa yang takut itu, biarlah jadi batu.

