Pena Liar

aku berfikir maka aku ada

Bocah Kecil dan Korek Api

To : Ernanda
Yang pergi membawa permainannya
Citayam 14 febuari 07

Bocah kecil itu berjalan
Dikegelapan ruas-ruas gang sempit
Sepanjang rumah kontrakannya

Sambil membawa korek api
Di genggaman jemari yang kecil
Bocah kecil itu menelusuri
Keriangan diantara bayangan hitam diri

Setiap tujuh kali melangkah bocah itu terhenti
Dan dinyalakannya batang korek api itu
Lalu dibiarkan hingga angin memadamkannya

Ia senang menyaksikan angin
Meniup batang korek api yang lagi menyala
Ungkapnya tersenyum yang berkata pada hatinya

Hari ini angin sedang berulang tahun
Dan korek api ini untuk ditiupnya
Agar angin dapat meminta permohonannya
Katanya sembari bergoyang menapaki kaki
Tujuh langkahnya kembali

Angin terharu : melihat ketulusan hati polos bocah itu

Sesampai diperujung gang, angin membiusnya.
Bocah kecil itu tiba-tiba tergeletak jatuh tak bernyawa
Dan korek api itu masih berada dalam genggaman
Ditangan yang terlihat rapuh merengkup dunia

Lalu angin membawanya ditempat hamparan ladang luas hijau

Diantara dua bukit yang permai

Dan angin pun berkata : bocah kecil itu layak mendapatkan angin terbaik disini

Agustus 17, 2009 Posted by | Kehidupan, Keluarga, Puisi, Refleksi, Renungan, sastra | , | 3 Komentar

   

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.