Pena Liar

aku berfikir maka aku ada

sapaan untuk kursi nusantara komisi V

Kota Mati
251106, Komdak

Di kota mu ku saksikan senja bisu
Gedung-gedung yang menjulang angkuh
Menghalangi sinar jingga
Pada rupa-rupa keserakahan

Kusaksikan pula raut wajah mu
Yang takut akan wabah perut menghantam
Membuat buta dari dongeng malam ibunda
Oleh kasih dan nurani kemanusiaan

Mengapa kau manjakan cacing diperut mu?
Apa itu yang meresahkan malam akan lelap tidurmu?
Lawanlah……!!
biar tak lagi terjebak Oleh kursi dan dasi
dan mencabik hati akan sebuah ambisi

Ingin ku satu tabah dalam waktu
Melepas belenggu dari sekedar nafsu
Melantun kisah walau senja memang tampak sunyi.
Ku harap kau juga begitu.
Agar baka berada dalam rindu.

Mei 2, 2014 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

rayuan aku ampuh untuk kamu

Gombal
010109

Catatan kecil untuk maria ulfa
(kesetian yang membasuh keringat di 7 malam tahun yg selalu baru)

Aku berada dalam bayang hitam
Karna aku cinta padamu
Aku terjerat dalam lingkaran imajiner
Lagi-lagi karna aku cinta pada mu
Dan aku lebih memilih mimpi
Dari pada temu dialam dunia
Lantaran aku cinta pada mu

Aku cinta kamu
Bukan karna kamu cantik
Bukan senyum mu yang menawan
Apalagi paras serupa bidadari

Aku cinta padamu oleh ketidaktahuan
Serta alur drama yang begitu sederhana
Dan barang kali cinta tak perlu kerumitan
Sekedar tertatap mata
Tiba-tiba mengalir alunan musik romantisme

Kamu cantik dan tak perlu setangkai mawar
Kamu menawan tak perlu pula gaun sutera yang halus
Kamu cukup cantik untuk terlukis dalam rongga sel otak ku.
Dan hanya itu aku terpukau
Untuk sebuah kata
Aku cinta pada mu.

Mei 2, 2014 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

mengapa kepal tangan kiri, jika tangan dikanan lebih kuat dan manis tuk melambai

Untuk Sang Reformis
Citayam, 30-05-08.

Mereka menyebutnya kemerdekaan, tapi
Menurutku hanya peralihan identitas yang menjebak ku
Pada belenggu tirani yang baru.
Dan, mereka berbicara tentang ideologi, tapi bagiku
Hanyalah pengganti kata kekuasaan.

Sebuah nasionalis yang mereka tawarkan
Menjadikan diriku sebagai tawanan.
Aku tiada lagi bebas…..
Dan aku terjebak oleh pujangga konstitusi,
Sebuah jeratan regulasi yang menghakimi ku
Dalam kemiskinan.

Adakalanya aku rindu Yesus
Yang datang untuk sebuah pembebasan.
Adakalanya pula aku berharap nabi Muhammad memimpin,
Memberiku kata pasti tentang keadilan.

Hanya harapan itu yang aku rindukan,
Hanya harapan itulah yang aku butuhkan saat ini
Dan Karna hanya itu yang aku punya diketiadaan diri.

Percintaan angan dalam dunia imajiner
Adalah sebuah gairah bagi kaum yang kalah.
Dan fantasi adalah sebuah pertahanan hidup
Untuk mereka yang telah terbuang.

Dari mereka kini aku belajar diam,
Karna Jeritan lapar telah melantunkan kemerduan ditelinga ku.
Dan kini, aku hidup untuk sebuah gairah
yang bercinta pada nyanyian sunyi.

Mei 2, 2014 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

LUPA JUDUL

Ribotsky
12 Februari 2009 pukul 17:04

aku tak lagi ingat namanya
namun aku dapat mengenal senyuman itu.
di tepian jalan berkabut debu,aku membelakangi mu.
lalu kau berjalan mengikuti arah senja yg lambat laun berpudar

entah dimana penghujungnya
aku tak tahu…

entah berapa jauh kau trus melangkah
aku juga tak tahu..

entah kapan kau terlelah
aku pun juga tak tahu, tapi aku mengikuti mu…..

“untuk teman bermain kecilku yg gemar berlari dan tak bisa ku kejar”
Depok, 8 Feb 2004

Mei 2, 2014 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

KATA CINTA

Citayam, Agustus 2005
(untuk kelahiran seorang teman; bulan depan)

Aku temukan dirimu dalam kata
Pada sebuah lipatan kertas usang,
Yang tak sengaja terbaca.

Kupahami maknanya, dan
tiada mengerti aku menjelaskannya

Karna tinta yang membentuk kata itu
Telah lahir dalam ruh dan berdiam
Dihati yang terkenang.

Kata itu telah ada sejak aku dalam rahim
Begitu cerita bunda, kala ia mengantarku
Tidur pada sebuah dongeng malam.

Kini aku dewasa dan kata itu
Tetap sama tiada berubah

Semula, aku yang kecil tak paham merasakan kata itu
Tapi kini, aku yang 22 tahun memahami kata itu,
Dan merasakannya.

Kata itu, setia menuntunku berdamai dengan masa lalu
Kata itu pula yang selalu menemani malamku dan
Merefleksikannya pada 22 lipatan kertas

Lantaran kita mencari sesuatu yang pernah ditemukan
Hingga sampai kini kau berada dengan ku
Lewat kata cinta.

November 4, 2010 Posted by | Puisi, Refleksi, Renungan, sastra, Uncategorized | 2 Komentar

Bocah Kecil dan Korek Api

To : Ernanda
Yang pergi membawa permainannya
Citayam 14 febuari 07

Bocah kecil itu berjalan
Dikegelapan ruas-ruas gang sempit
Sepanjang rumah kontrakannya

Sambil membawa korek api
Di genggaman jemari yang kecil
Bocah kecil itu menelusuri
Keriangan diantara bayangan hitam diri

Setiap tujuh kali melangkah bocah itu terhenti
Dan dinyalakannya batang korek api itu
Lalu dibiarkan hingga angin memadamkannya

Ia senang menyaksikan angin
Meniup batang korek api yang lagi menyala
Ungkapnya tersenyum yang berkata pada hatinya

Hari ini angin sedang berulang tahun
Dan korek api ini untuk ditiupnya
Agar angin dapat meminta permohonannya
Katanya sembari bergoyang menapaki kaki
Tujuh langkahnya kembali

Angin terharu : melihat ketulusan hati polos bocah itu

Sesampai diperujung gang, angin membiusnya.
Bocah kecil itu tiba-tiba tergeletak jatuh tak bernyawa
Dan korek api itu masih berada dalam genggaman
Ditangan yang terlihat rapuh merengkup dunia

Lalu angin membawanya ditempat hamparan ladang luas hijau

Diantara dua bukit yang permai

Dan angin pun berkata : bocah kecil itu layak mendapatkan angin terbaik disini

Agustus 17, 2009 Posted by | Kehidupan, Keluarga, Puisi, Refleksi, Renungan, sastra | , | 3 Komentar

BERLALU

BERLAlU

Inilah kesaksian ku pada mu
Yang berharap terpanggil cinta
Ketika senja merona dan ranting
Bambu menadah titik air langit
Yang jatuh menderas

Dalam kesunyian jalan bertapak
Ku coba menuliskan sesuatu
Dimana setiap bayangan akan cinta
Mengajak ku melaju untuk
Menemukan mu di pintu rumah

Tapi, semua bahasa dan kata
Seketika lari dari kesunyian
Lalu menularkan rasa takut
Karna aku terlampau mencintaimu

Demikianlah aku, dan tetap terindukan kamu

Citayam 030307

Mei 1, 2014 Posted by | Uncategorized | 1 Komentar

khayalan untuk betina ku di pondok cina

Pondok Cina
220507

Aku tak lagi pergi
Dan lelah tuk mencari.
Kini aku pulang
Tuk menunggu mu
Dipintu rumah

Aku tiada lagi kemana-mana
Karna aku teramat lelah
Serta pula menetap dirumah
Berharap engkau datang, dan pulang

Apakah kau RINDU RUMAH, betina manisku….?

Dialam sunyi aku masih saja bertanya
Dan pada gelap, dan tetap terjaga

Kapan kau hendak pulang, betina sayangku….?

Mei 1, 2014 Posted by | Puisi, Uncategorized | , | Tinggalkan komentar

catatan cerita manusia terbuang

Air Mata Eyang

“Hore, Eyang pulang! Taro buat Niti, Yang!”
Tanggal sepuluh. Aku selalu mengingatnya. Hari kesepuluh tiap bulan, saat Eyang berangkat pagi-pagi, dengan seragam hijau kecokelatan, peci cokelat yang ditempeli bros burung garuda kuning, dan kacamata cokelat yang tak kalah butut dengan sepatu hitamnya. Ah, Eyang gagah sekali kalau begitu, seperti pahlawan yang gambarnya terpampang di tembok kelas di sekolah. Kemudian Eyang akan pulang agak sore, dan Emak menyambutnya, juga aku, karena aku selalu dapat Taro atau Chiki dari Eyang. Lalu malamnya lauk makan kami jadi agak lebih enak, menandakan Emak punya uang lebih hari itu.

# # #

“Bapak kok belum pulang, Mak?”
“Bapakmu masih di tempat Haji Burhan, Niti!”
“Pengajian ya, Mak?” kejarku.
“Enggak, enggak pengajian.”
“Trus ngapain, Mak? Tadi Niti lihat bapaknya Rini dan Marsih juga ke sana, kalau nggak pengajian kok rame-rame?” sambungku lagi.
“Bapak-bapak di kampung ini lagi rapat.”
“Rapat? Rapat apaan, Mak? Kayak Pak Guru aja, pakai rapat!”
Emak terdiam, menghela nafas berat. Seperti memikirkan sesuatu yang penting
“Kenapa sedih, Mak?” Aku penasaran.
“Ah, enggak! Sekarang Niti tidur, ya?”
“Niti belum ngantuk, Mak!”
“Sudah, pokoknya tidur, besok kan harus sekolah. Minta dongeng sama Eyang, biar bisa cepet tidur.”
Baiklah, aku berangkat tidur, meski aku penasaran, sangat penasaran. Kenapa Emak sedih, kenapa bapak-bapak di kampung ini sering berkumpul di rumah Haji Burhan. Haji yang belum haji. Orang kampung menyebutnya Haji karena janggutnya yang memanjang dan kopiah putih yang menempel di kepalanya. Kata Bapak, pergi haji biayanya mahal, jadi tidak mungkin orang di kampung ini sanggup pergi haji.
Segera kelopak mataku mencari Eyang. Itu dia, sedang duduk sendiri, di kursinya di pojok ruangan. Eyang memang agak aneh, sering duduk sendirian dan melamun.
“Yang, temani Niti tidur! Cerita dongeng ya, Yang!” pintaku manja pada Eyang. Aku pun menarik tangannya, dan seperti biasa, Eyang akan terkekeh dan mengikutiku. Aku segera berbaring di dipan kecilku. Bapak yang membuatnya, sebuah dipan yang cantik, terbuat dari bambu dan beralaskan tikar plastik. Bantal mungilku juga sudah siap menunggu, bantal yang sarungnya penuh dengan jahitan tangan Emak. Ah, masih bagus. Bantal di dipan Emak dan Bapak tidak pakai sarung.
Lalu Eyang bercerita tentang kenangannya waktu perang, mengangkat senjata melawan Belanda dan Jepang. Tentang komandannya yang dihormati, tentang pelarian dalam belantara, tentang taktik kemenangan, tentang perut yang selalu kenyang setiap kali melewati perkampungan, tentang gadis yang ditaksirnya: Nenek tentunya, pembantu juru masak di dapur umum. Selalu itu kisah Eyang dan selalu begitu. Seperti biasa pula, aku mendengarnya hingga kemudian lelap dengan kisahku sendiri di dalam mimpi.

# # #

Pagi yang cerah. Hari ini aku akan maju ke depan kelas untuk menghafal. Seperti yang ditugaskan Pak Guru, semua anak harus menghafal beberapa pasal dalam UUD 1945. Aku sudah rajin latihan, insya Allah bisa.
“Niti, cepat sedikit, Nak!” Emak memanggilku.
Aku menghampiri Emak yang sudah siap dengan baju seragamku di tangannya. Bapak duduk di sudut ruang, tempat duduk Eyang. Sepertinya Bapak sedang memikirkan sesuatu, pandangannya menerawang, sesekali asap rokok keluar dari mulutnya.
“Mak!” Bapak bicara. Emak menoleh, masih sambil mendandaniku.
“Iya, Pak,” jawab Emak.
“Surat-suratnya masih kau simpan?” lanjut Bapak.
====================================================
“Surat-surat apa, Pak?” Emak balas bertanya.
“Itu, kuitansi pembelian tanah ini, rekening listrik, nota pembayaran pajak…”
“Masih, Pak! Tuh, di kotak bekas wadah sepatu Niti!”
“KTP Emak masih berlaku, kan?”
“Masih Pak, sampai 2009. Ada apa sih, Pak?” Emak heran dengan pertanyaan Bapak.
Bapak tidak segera menjawab. Menghisap rokok lagi, asap putih membubung di atas kepalanya. Seolah-olah Bapak ingin gumpalan asap itu membawa pergi beban dari dalam kepalanya. Membawanya terbang entah ke mana, asalkan tidak lagi mengganggu, agar Bapak bisa lebih banyak tersenyum seperti biasanya.
“Siap-siap, Mak.”
“Siap-siap gimana?” Suara Emak meninggi, wajah Emak seketika berubah, pias.
“Sepertinya rencana pemerintah tidak bisa ditawar lagi.”
“Rumah kita jadi digusur?” Wajah itu pun semakin pasi.
Emak terduduk, padahal kancing baju kurang satu lagi. Aku memakainya sendiri. Sepertinya Emak sedih, nafasnya tiba-tiba berat, persis seperti ketika aku bertanya tentang Bapak yang rapat di rumah Haji Burhan.
“Aku nggak habis pikir, katanya tempat kita harus ditertibkan, Kita dianggap penghuni liar. Padahal kita dulu beli tanah ini, kita punya sambungan listrik resmi dari PLN, kita bayar pajak tiap bulan, kita punya KTP.” Bapak menggerutu.
“Lalu bagaimana, Pak?” Emak bingung.
“Aku juga pusing, Mak! Barangkali memang nasib kita lagi apes.”
“Terus kita mau tinggal di mana? Lalu Iskandar, Marto, Paiman, Pak Burhan, dan orang-orang kampung ini mau ke mana?” ujar Emak.
“Lah, itu yang dibicarakan tadi malam. Orang kampung juga bingung, apa kira-kira pemerintah jadi mengusir 161 keluarga di sini. Tapi melihat gejalanya, rencana itu jadi dilakukan, Mak!”
Bapak berhenti sebentar.
“Paiman, yang punya kenalan kacung di Tramtib, dapat bocoran info kalau daerah ini resmi akan ditertibkan,”
“Pak Burhan gimana, Pak?” Sepertinya Emak mencari-cari kelegaan.
“Beliau juga bingung. Katanya mau ke DPR, tapi tidak begitu bisa diharapkan juga.”
“Kok bisa, Pak?” Lagi-lagi Emak penasaran.
“Begitulah, Mak! Wakil-wakil rakyat itu hanya butuh kita waktu Pemilu. Tahun kemarin kita dianggap penduduk, dibuatkan KTP, disuruh kampanye, disuruh nyoblos, disuruh ini, disuruh itu, sekarang…!”
“Nasib kita, Pak! Kasihan Niti.” Sepertinya Emak pasrah.
Emak memandangku, matanya berkaca. Nafasnya tersengal, terisak. Aku mengerti sekarang, kenapa Bapak sering ke tempat Haji Burhan akhir-akhir ini.
“Emak, simpan baik-baik surat itu! Siapa tahu nanti berguna.”
Ya, siapa tahu.

# # #
====================================================
Bapak makin sering pulang malam. Aku jadi jarang bertemu. Pertemuan bapak-bapak di kampung ini jadi makin sering, tidak hanya di rumah Haji Burhan. Pernah di tempat Pak Trimo, Pak Udin, Pak Rano, bahkan kemarin di rumah sempit ini, di sini. Aku sebal, benar-benar sebal. Jadi nggak bisa belajar, padahal tugas hafalan dari Pak Guru tambah banyak, sudah sampai pada pasal-pasal terakhir UUD 1945. Tapi mau bagaimana lagi, bilang Emak tidak berani, ngomong Bapak apalagi. Orang-orang tua yang berkumpul tampak serius, wajah-wajah mereka tegang, mungkin khawatir, mungkin jengkel atau barangkali pasrah. Entahlah! Yang jelas hafalanku terganggu, titik! Pak Guru sudah mengiming-imingi aku untuk bisa ikut lomba di Kecamatan mewakili sekolah. Siapa yang nggak mau, mewakili sekolah dalam lomba. Emak pasti bangga, Bapak juga, apalagi Eyang. Eyang selalu berpesan agar aku rajin belajar, biar kalau besar nanti bisa berguna bagi negara dan bangsa. Eyang paling senang bicara tentang cinta tanah air dan bangsa. Mungkin Eyang salah satu pahlawan Indonesia. Harusnya foto Eyang ada dalam buku Pahlawan Nasional Indonesia, buku yang ada di lemari sekolah.

Jam sepuluh siang, sekolah pulang awal. Aku, Rini, dan Marsih berjalan bersama. Aku senang benar, tadi Pak Guru menyampaikan aku terpilih mewakili lomba di Kecamatan. Marsih juga, aku lomba bidang studi PPKn, sedang Marsih IPA. Seperti hari biasanya, kami pulang bersama dan dengan riangnya bercanda. Tapi, beberapa meter menuju arah kompleks kami…
Seratus atau mungkin dua ratus orang berseragam membawa linggis, cangkul, tongkat, palu, membongkar paksa rumah-rumah warga kampung. Ada satu mobil besi besar, mungkin itu yang namanya buldoser. Menyerok bangunan hingga luluh lantak. Maju-mundur, maju-mundur, sepertinya mobil itu punya nyawa dan terbiasa dengan pekerjaannya. Mobil itu kelihatan ahli sekali, seperti juga orang-orang berseragam itu, ahli sekali. Pak Paiman tampak terduduk di atas beton dengan nafas memburu, kepalanya mengeluarkan darah, Bu Paiman mengelapnya dengan handuk sambil sesenggukan tak henti-hentinya menangis. Sepertinya Pak Paiman melawan saat rumahnya akan dirobohkan. Aku segera berlari mencari Bapak dan Emak, Marsih dan Rini sudah menghambur sejak tadi. Aku terus berlari, setengah berlari, kuperlambat langkah saat mendekati rumah. Oh, Bapak! Hati-hati! Tampak Bapak berdorongan dengan beberapa pria berseragam, Bapak mengacung-acungkan kotak sepatuku. O, ya! Di dalamnya surat-surat bukti pajak dan pembayaran.

Bapak masih saja mengacungkan kotak itu, Emak membantu di sebelah Bapak, tak kalah gigih dengan tersengal karena butiran air terus mengalir dari matanya. Salah satu pria berseragam memberikan kode pada temannya. Dua orang datang membantu, Bapak dan Emak terdesak. Pria berseragam main pukul, kotak sepatu itu jatuh, berhambur lembar-lembar kertas berstempel dari dalamnya. Bapak tersungkur, menyusul Emak. Sepatu-sepatu hitam besar milik pria berseragam menginjak-injak kertas-kertas itu, melangkah menuju rumah kami. Linggis, palu, cangkul, tongkat mengambil perannya. Benar-benar ahli pria-pria berseragam itu. Bapak bangkit, berteriak keras sekali ingin melawan, belum pernah aku lihat Bapak semarah ini. Emak menahannya, memegang tangan dan kakinya.
“Biarkan aku, Mak! Manusia-manusia ini tidak boleh dibiarkan!”
“Jangan, Pak! Mereka terlalu banyak, keselamatan lebih penting, Pak! Ingat Niti, Pak! Kamu kemarin janji tidak akan melawan kalau ini terjadi. Sudahlah, Pak! Demi aku dan Niti.” Emak mencegah Bapak dengan raungan dan aliran air mata.
Bapak kembali tersungkur, lemah.
“Puluhan tahun aku mengumpulkan sen demi sen untuk rumah ini, Mak! Agar kita bisa hidup tenang, Niti bisa sekolah… Sekarang… Mereka merenggutnya begitu saja…! Dan aku nggak bisa berbuat apa-apa… ”
Bapak masih dalam dekapan Emak. Lunglai. Sepertinya tulang Bapak tercerabut dari tubuhnya. Emak menenangkannya, dengan kesedihan yang terburai, air mata masih deras mengalir. Keduanya menunduk pasrah. Aku melangkah, berjalan mendekati mereka.
“Mak!” ucapku singkat.
Bapak dan Emak menengadah bersama kemudian menghambur ke arahku, memelukku dengan sisa tenaga. Tangis makin deras mengalir membanjir. Tak ada kata-kata untukku. Hanya derai air mata.
Pri-pria berseragam itu masih buas meluluh-lantakkan rumah-rumah kami. Juga mobil besi itu. Suaranya menggilas bangunan seakan juga menggilas hati kami, harga diri kami, kemanusiaan kami.

# # #

Terima atau tidak, semua sudah terjadi. Warga bersepakat untuk tidak pergi dari tanah ini. Karena tidak tahu harus pergi ke mana. Tenda-tenda didirikan. Dari plastik, seng, kardus, seadanya. Penerangan dibuat dengan obor dari botol yang diisi minyak tanah. Bapak tertidur di atas tikar rombeng, kasihan Bapak. Emak menyalakan kompor dan memasak sesuatu, nggak tau apa itu. Malam gelap begini mana bisa masak, paling hanya air. Eyang, duduk di sebelahku, dekat obor minyak, mengelap bros burung garuda kuningnya yang penyok. Barangkali tadi terinjak sepatu hitam pria berseragam. Aku ingat tugas hafalanku, ingat lomba di Kecamatan, ingat pesan Eyang untuk rajin belajar agar kelak berguna bagi negara dan bangsa. Aku buka kembali buku dari Pak Guru, aku membacanya dengan keras, agar telingaku mendengar hingga mudah menghafalnya.
“Pasal dua puluh tujuh, ayat satu, Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya. Dua, tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Tiga, setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara.”
Tiba-tiba Eyang merangkulku, aku menoleh ke arahnya.
“Eyang kenapa?”
Pipi Eyang basah oleh air mata.

– Selesai –

Untuk seorang terkasih
Yang selalu menuntunku berdamai dengan masa lalu
Citayam,
Agung Prabowo

Mei 1, 2014 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

dialektika kopi hitam

Dialektika Kopi Hitam
(mahasiswa berpolitik, apakah suatu keharusan??)
Masih ingat pada obrolan sahabat penulis? Mungkin disini penulis mencoba mendskripsikan sebagai bahan dialektika kita dalam memahami arti penting pergerkan mahasiswa dalam kerangka akademik. Yang tentunya kebenaran dalam perdebatan pemikirian ini tentu berada dalam penilaian teman-teman. Karena kebenaran ada ditangan kita. Dan teman2 berhak melakukan/memutuskan penilaian dalam memandang hakikat kebenaran, karena sejatinya kebenaran bukan milik kolektif melainkan kebenaran individu.
Fungsi mahasiswa sebagai kontrol sosial salah satunya dapat dijalankan lewat kekuasaan, dan kekuasaan sepeti disinggung diawal bahwa kekuasaan dapat diraih -salah satunya- melalui politik. Jalur inilah yang menjadi keyakinan kawan penulis bahwa untuk terjun dalam proses perubahan dan kontrol sosial maka jalur yang terbaik adalah jalur hirarkis kekuasaan (top-bottom), Jika hirarkis kekuasaan telah direngkuh maka untuk melakukan perubahan serta kontrol sosial mudah untuk dilakukan. Dan bukan tidak mungkin bagi mahasiswa untuk terjun menjadi pemimpin atau menjadi penguasa jika kondisinya benar-benar memungkinkan dan mahasiswa dapat memelihara dan mengawal reformasi melalui gerakan politik seperti ini.
Kawan penulis memberikan komentar tentang pentingnya politik bagi mahsiswa bahwa gerakan mahasiswa seharusnya tidak berhenti sebagai gerakan moral dan gerakan menumbangkan rezim saja, tetapi juga harus merebut dan membangun kekuasaan. Tanpa kekuasaan, tidaklah mungkin bagi mahasiswa untuk mewujudkan cita-cita politiknya. Bahkan ia menyarankan pergerakan mahasiswa kalau bisa mendirikan partai politik dan menjadi bagian gerakan politik intraparlementer dengan terlibat dalam kancah politik formal sebagai elemen mahasiswa.
Prasangka negatif terhadap gerakan politik kekuasaan maupun terhadap gerakan politik lainnya harus kita singkirkan. Begitu pula sebaliknya. Semua gerakan mahasiswa adalah yang terbaik, sejauh mereka tetap berpegang kepada norma-norma yang berlaku dan tetap santun dalam menyampaikan aspirasinya. Justru, gerakan yang tidak baik adalah gerakan yang acuh tak acuh terhadap politik (apolitis) dan gerakan apatis terhadap realita sosial.
Akan tetapi Kaitannya dengan peran dan fungsi mahasiswa sebagai agen social muncul pertanyaan apakah jalur politik buat mahasiswa saat ini sebagai jalur utama ataukah hanya alternaif bagi perjuangannya?

Pergerakan Politik Mahasiswa
Pergerakan mahasiswa. Sebuah istilah yang dari masa ke masa senantiasa disertai diskursus wacana yang tajam mengenai fungsi dan perannya. Diskursus ini menjadi urgen karena ia akan sangat berkaitan dengan jati diri dan karakter pergerakan mahasiswa itu sendiri. Perdebatan yang terjadi biasanya dalam mendefinisikan dan mendeskripsikan gerakan mahasiswa, terutama berkaitan dengan karakter pergerakannya. Yaitu, apakah pergerakan mahasiswa adalah gerakan moral atau gerakan politik? Atau kedua-duanya
Apa yang harus dilakukan mahasiswa sekarang ini? tentu saja belajar dan yang tak kalah penting adalah kepekaan dan kepedulian mahasiswa terhadap masyarakat. Jangan sampai mahasiswa tak uabhnya seperti robot yang tidak mempunyai perasaan, tahunya hanya menjalankan perintah. Menjadi mahasiswa yang merakyat yang peduli akan kepentingan rakyat, Karena mau tidak mau pergantian pemegang tongkat estafet generasi pasti terjadi. Dan mahasiswa yang akan menerima pergantian estafet itu.

Gerakan politik nilai Vs gerakan politik kekuasaan
Sebenarnya, ada titik temu di antara dua aliran pergerakan-pergerakan mahasiswa di atas (pergerakan moral dan pergerakan politik) karena kedua-duanya juga meyakini gerakan mahasiswa sebagai gerakan moral yang universal. Perbedaan terjadi berkaitan dengan gerakan politik yang dilakukan mahasiswa. Apakah itu sesuai dengan jati diri dan karakter pergerakan mahasiswa?
Perbedaan pandangan di atas menyebabkan mahasiswa terpolarisasi dalam dua kutub yang berlawanan. Karena itu, kita perlu melakukan redefinisi, paradigma baru pergerakan mahasiswa dalam rangka rekonstruksi jati diri dan karakter pergerakan mahasiswa Indonesia. Hal ini dimaksudkan sebagai upaya rekonsiliasi antarkubu sekaligus langkah awal konsolidasi pergerakan mahasiswa Indonesia yang hari ini terkotak-kotak.
Kalau kita menganalisis secara cerrmsat, aktivitas pergerakan mahasiswa seperti demonstrasi, orasi, seminar, kongres, pernyataan sikap, tuntutan dan lain-lain, sebenarnya merupakan aktivitas politik. Semua itu merupakan sarana komunikasi politik lisan dan tulisan. Jadi secara jujur tak bisa dipungkiri bahwa gerakan mahasiswa merupakan gerakan politik. Namun, gerakan politik seperti apakah yang layak dimainkan pergerakan mahasiswa? Apa yang membedakannya dengan partai politik?
Ada konsep menarik dan menjadi sebuah alternatif yang cerdas. Hal ini berkaitan dengan mencuatnya konsep ‘gerakan politik nilai’ (value political movement) dan ‘gerakan politik kekuasaan’ (power political movement).
Gerakan politik nilai adalah gerakan yang berorientasi terciptanya nilai-nilai ideal kebenaran, keadilan, humanisme (kemanusiaan), profesionalitas dan intelektualitas dalam seluruh aspek pengelolaan negara. Sedangkan gerakan politik kekuasaan merupakan gerakan politik untuk mencapai kekuasaan seperti yang dilakukan oleh partai-partai politik.
Gerakan mahasiswa sebagai gerakan politik nilai ini tidak mempedulikan siapa yang berkuasa, karena siapa pun yang berkuasa akan menjadi sasaran tembak ketika melakukan penyimpangan. Ia tidak berkepentingan mendukung seseorang untuk menjadi penguasa, tapi siapa pun penguasa yang otoriter akan berhadapan dengan gerakan mahasiswa.
Hal tersebut jelas berbeda dengan ketika gerakan mahasiswa menjadi gerakan politik kekuasaan, karena ia sangat peduli siapa yang berkuasa dan senantiasa berusaha merebut kekuasaan itu, atau berusaha terus mempertahankan kekuasaan itu ketika ia menjadi penguasa atau membela organisasi/partai yang menjadi patronnya ketika menjadi penguasa. Gerakan politik nilai mahasiwa bersifat independen, tidak mendukung calon penguasa dan tidak masuk ke dalam sistem pemerintahan atas nama pergerakan mahasiswa. Karena, jika hal tersebut dilakukan, fungsi controlnya hilang dan tugas utama mahasiswa, yaitu belajar, menjadi terbengkalai.
Namun, ketika gerakan mahasiswa sebagai gerakan politik nilai, gerakan ini lebih memainkan fungsinya sebagai kontrol sosial dan tekanan sosial (social pressure) terhadap kekuasaan. Kalaupun gerakan menukik menjadi tuntutan mundur penguasa, itu didasari standar nilai yang jelas bahwa pemerintah sudah tak mampu dan bukan dalam rangka menaikkan seseorang menjadi penggantinya.
Gerakan politik kekuasaan biasanya tidak independen karena kepentingannya sempit: kekuasaan. Jika gerakan mahasiswa menjadi gerakan politik kekuasaan, maka bukan merupakan hal yang tabu untuk mengatasnamakan aktivis gerakan mahasiswa dalam rangka mendukung calon penguasa atau masuk ke dalam sistem, atau membela penguasa/partai yang merupakan patronnya.
Idealnya gerakan mahasiswa selain sebagai gerakan moral, juga merupakan gerakan politik nilai dan bukan gerakan politik kekuasaan. Gerakan politik kekuasaan merupakan area concern partai politik dan bukan untuk gerakan mahasiswa. Jika ada aktivis mahasiswa yang bermain dalam area tersebut, seharusnya tidak mengatasnamakan gerakan mahasiswa, tapi lebih baik bergabung dalam partai politik.
Gerakan politik nilai memang bersentuhan dengan aktivitas-aktivitas politik, menggunakan berbagai sarana komunikasi politik, dan memiliki target-target politik, tapi bukan berkaitan dengan perebutan kekuasaan. Memang dengan demikian, gerakan mahasiswa akan tampak seperti koboi pahlawan yang datang ke kota untuk memberantas bandit-bandit dan penjahat. Setelah bandit-bandit itu kalah, Sang koboi kembali pulang ke padang rumput.
Mahasiswa akan turun ketika menyaksikan rakyat terzalimi oleh bandit-bandit penguasa dan kembali ke kampus untuk belajar setelah rezim itu ‘dihajar’ dan diberi pelajaran. Lalu, bagaimana sesudah itu? Siapa yang akan memimpin kota sepeninggal sang koboi? Siapa yang akan memimpin negeri setelah sang diktator turun? Di sinilah rumitnya. Yang pasti, itu bukan tugas koboi muda karena ia masih harus belajar sehingga suatu saat nanti sampai masanya dia memimpin kota. Itu bukan tugas gerakan mahasiswa, ia masih punya tugas akademis dan pembelajaran kaderisasi kepemimpinan di kampus yang menjadikannya siap sebagai para pemimpin masyarakat yang memiliki konsistensi idealisme seperti ketika masih di kampus.
Masalah kekuasaan lebih merupakan tugas partai politik. Gerakan mahasiswa hanya bertanggung jawab mengontrol dan mengawal transisi dan perkembangan demokrasi supaya tetap pada relnya, terlepas dari siapa yang berkuasa.
Meskipun demikian, ada pertanyaan yang muncul dan menggelitik. Mungkinkah terjadi suatu kondisi luar biasa memaksa keterlibatan mahasiswa untuk terjun menjadi para pemimpin negara?
Kemurnian gerakan mahasiswa sering menjadi pertanyaan, apakah aktivitas di dalam gerakan organisasi mahasiswa murni didasarkan keinginan melakukan perubahan kondisi yang lebih baik, ataukah sekadar sebagai batu loncatan meraih kekuasaan atau kedekatan politik dengan pusat kekuasaan. Fenomena aktivis mahasiswa ’98 yang menjadi caleg pada Pemilu 2009 menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi mereka memiliki idealisme dan komitmen membela rakyat, sehingga mampu memperbaiki sistem dari dalam. Namun di sisi lain, kondisi tersebut rawan godaan dan iming-iming materi yang mengaburkan komitmen awal mereka.
Last comment, penulis berharap semoga ini dapat menjadi sumber pengetahuan untuk kita bersama dalam menangkap pengetahuan dan pencerahan. Adapun kekurangan tulisan ini penulis berkenan untuk menerima pemikiran segar dari kawan2, karena disini merupakan ruang kita untuk berbagi pendapat untuk celotehan intelktual.

Mei 1, 2014 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar